Nasa Rencanakan Pembangunan Industri Di Luar Angkasa

| |

Pernah berimajinasi tinggal di luar angkasa dan bertemu dengan berbagai macam benda atau mungkin alien yang berwarna warni?.

Di dunia nyata saat ini, semua yang diperlukan untuk misi luar angkasa mulai dari peralatan hingga makanan dan obat-obatan tentunya harus terlebih dahulu dibuat di Bumi dan baru kemudian diluncurkan ke orbit.

Tentunya ini memerlukan waktu dan biaya besar untuk melakukannya karena manusia bumi juga memiliki keterbatasan eksplorasi kita terhadap tata surya.

Namun, semua itu akan berubah.


Rencana Industri Luar Angkasa Nasa

Perusahaan riset luar angkasa kini telah mengirimkan printer 3D yang dapat menghasilkan alat pengganti di luar angkasa.

Tentunya dimasa depan bukan tidak mungkin bahwa kamu akan bisa melihat pabrik yang mengorbit membuat produk mereka untuk dijual di Bumi.

Atau mungkin akan banyak robot otomatis yang membangun satelit seukuran lapangan sepak bola di atas sana.

Lalu dapat dipastikan juga akan ada potensi untuk membangun habitat di planet lain, menggunakan sumber daya alam disana, atau memanfaatkan asteroid untuk dapat meningkatkan kembali cadangan logam yang semakin berkurang di Bumi.

Namun, satu teknologi yang muncul dapat mengubah segalanya untuk mengawali satu inovasi di bidang raksasa kedirgantaraan terutama pembuatan produk di luar angkasa.

Salah satu batasan keras dalam membangun bisnis di luar angkasa adalah bagaimana caranya agar bisa meluncurkan berbagai hal yang diperlukan ke luar angkasa.

Meluncurkan benda-benda dari Bumi ke luar angkasa tidak hanya membawa beban finansial yang berlebih keluar dari gravitasi dan atmosfer kita.

Tentunya itu bukanlah bukanlah proses yang simpel, dan sudah pasti ada batasan kerapuhan, bentuk, dan bahan yang dapat digunakan dalam muatan yang dikirim ke orbit menggunakan roket, bahkan bila ditutupi oleh fairing pelindung sekalipun.

Desain inovatif seperti antena yang penggunaannya menggunakan pemekaran gaya pegas yang dikembangkan oleh NSLComm untuk satelit geocommunications, dapat memberikan solusi untuk beberapa keterbatasan ini, tetapi tidak semua hal.

Teknologi manufaktur dalam ruang angkasa yang saat ini dalam pengembangan mungkin saja memiliki potensi untuk mengurangi desain kasarnya dan membuat batasan biaya.

Demikian pula dengan yang dikatakan oleh CEO dan Presiden Made In Space Andrew Rush, yang berbicara di atas panggung simposium industri ruang angkasa tahunan, Kongres Astronautika Internasional yang mengatakan bahwa “Kami telah berfikir bahwa manufaktur dalam ruang, khususnya bagian yang berkolaborasi dengan akses ke ruang angkasa yang lebih murah, bersama dengan elektronik dan komputasi modern, sudah seperti pondasi pembunuh yang memungkinkan kami untuk benar-benar serius dalam memecahkan beberapa kendala yang kami lakukan pada segala hal yang pernah kami lakukan dikirim ke luar angkasa, ”.


Teknologi Manufaktur Ruang Angkasa

Made In Space, perusahaan berbasis di Mountain View yang didirikan pada 2010, juga mengembangkan dan menyebarkan teknologi manufaktur dalam ruang angkasa.

Pada 2013, mereka mengirim printer 3D pertama ke luar angkasa untuk menunjukkan kelayakan teknologinya dan memanfaatkan kesuksesan awal itu menjadi kesepakatan dengan raksasa ruang warisan Northrop Grumman.

Dengan tujuan untuk mengembangkan Archinaut, platform pembuatan robot presisi tinggi di dalam ruang, di ruang angkasa yang dapat melakukan tugas-tugas seperti membangun teleskop yang kompleks dan sangat sensitif atau memodifikasi dan meningkatkan kualitas pesawat ruang angkasa yang sebelumnya sudah ada di orbit.

Dalam kekosongan ruang, ironisnya para astronot tinggal dan bekerja di dalam sebuah tempat mirip kaleng yang tidak jauh lebih besar dari kontainer yang biasa digunakan jasa pengiriman.

Ini dikarenakan setiap modul ISS, dan semua yang mereka kirim ke orbit, dibatasi oleh dimensi roket peluncuran.

Tetapi jika dimasa depan ternyata berhasil membangun satu manufaktur di luar angkasa, manusia akan berpotensi membuat struktur raksasa yang tidak akan menahan beratnya sendiri di Bumi sebagai contoh stasiun ruang angkasa yang lebih luas, teleskop seukuran lapangan sepak bola, atau satelit besar untuk memanen energi matahari.

Keren sekali bukan?.

Sementara itu pada bagian-bagian khusus, seperti lensa dan sel surya, masih perlu dibuat di Bumi, namun perangkat yang menyatukan semuanya pasti bisa dibuat dan dirakit di orbit.

Salah satu contoh pertama insinyur yang merancang konstruksi orbital adalah Archinaut Made In Space.

Benda ini pada dasarnya adalah mesin hasil rakitan robot dengan printer 3D yang tertanam.

Printer akan mengekstrusi struts dan konektor, yang lengannya terkunci pada tempatnya.

Kerennya, ini memang seperti ruang Lego.

Saat ini Archinaut dapat bekerja dengan plastik berkekuatan tinggi yang disetujui NASA berbahan polikarbonat, tentunya ini akan lebih dari cukup kuat untuk menyatukan struktur ruang raksasa di lingkungan orbital yang rendah tenanan.

Archinaut telah membuktikan dirinya sendiri dalam uji vakum, pada gaya berat mikro di atas komet jatuh, dan rencananya akan diluncurkan ke ISS pada tahun 2019.

Pada akhirnya, bahkan bahan baku untuk konstruksi juga akan dapat berasal dari luar angkasa.

Dimulai dengan Planetary Resources  yang didirikan di AS pada tahun 2009 oleh investor yang juga termasuk pendiri Google, Larry Page dan CEO Virgin Richard Branson.

Langkah pertama mereka? Menambang asteroid.

Dan dengan perusahaan investasi Goldman Sachs yang memprediksi akan menjadi triliuner pertama di dunia, mereka berencana membuat keuntungan mereka di industri baru ini, yang bisa menjadi demam emas abad ke-21.

Hal yang paling utama adalah menemukan asteroid yang nyaman dan kaya akan logam mulia seperti emas atau platinum.

Sayangnya, meskipun ada sekitar 18.000 asteroid dalam orbit yang dekat dengan bumi, hanya sekitar 4% di antaranya yang kemungkinan memiliki logam berharga.

Jadi, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri ini adalah pencarian calon pelanggan.

Dan itu pulalah sebabnya beberapa perusahaan, di antaranya Asteroid Mining Corporation yang berbasis di Inggris, berupaya memasang satelit yang dapat memindai melalui batu ruang angkasa untuk mencari tambang emas potensial.

Tentu saja, mengambil materi berharga lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Kelanjutan Rencana Industri Ruang Angkasa

Sejauh ini hanya sekitar satu miligram material yang pernah dikembalikan dari asteroid, sedikit butiran debu yang dikumpulkan oleh pesawat ruang angkasa Hayabusa Jepang pada tahun 2010 lalu.

Pada 2016, NASA meluncurkan pesawat ruang angkasa OSIRIS REx dalam misi tujuh tahun ke asteroid Bennu.

Jika semua berjalan sesuai rencana, ini akan mengembalikan sekitar 150 gram bahan.

Tetapi rencana NASA yang lebih besar untuk menangkap dan mengembalikan asteroid jadi kembali ke 50 meter menuju orbit di sekitar bulan malah akhirnya dibatalkan oleh pemerintahan Trump.

Fisikawan di California Institute of Technology memperkirakan misi “pengembalian asteroid” akan menelan biaya sekitar $ 3,6 miliar.

Masalah terbesar mungkin adalah hukum ekonomi penawaran dan permintaan.

Dimana ketika mereka kembali dengan ribuan ton emas atau platinum dapat menghancurkan pasar, dengan begitu logam mulia menjadi semurah keripik kentang, atau mungkin sebutir bakso cilok di depan kampusmu.

Previous

Jenis-Jenis Malware Berbahaya Yang Perlu Kamu Tahu & Hindari

Spotify Luncurkan Fitur Untuk Anak

Next

Leave a Comment